.
.
.
..
Sabtu, 10 April 2010
" Paru dan Darah Bilqis Terserang Kuman "
" Ibu.MenKes, Endang Rahayu Sedyaningsih, Akan Melayat Bilqis "

" Bilqis Akhirnya Meninggal Dunia "

Selasa, 06 April 2010
" Unicef: Air Bersih Pengaruhi Pendidikan Anak "
ANDRE: NEW YORK — Banyak sekolah di negara miskin kekurangan instalasi kebersihan dan air yang layak sehingga memengaruhi pendidikan anak dan bahkan merenggut jiwa.
Demikian peringatan Dana Anak PBB (Unicef) di dalam satu laporan baru, Senin (5/4/2010). "Jutaan anak di dunia berkembang pergi ke sekolah dengan tak memiliki air minum atau kakus bersih, kebutuhan dasar yang banyak kita jadikan jaminan," kata Direktur Regional Unicef Timur Tengah dan Afrika Utara Sigrid Kaag saat laporan itu diluncurkan di Dubai.
Menurut laporan tersebut, yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan organisasi mitra swadaya, sebanyak 1,5 juta anak berusia di bawah lima tahun meninggal setiap tahun akibat diare yang disebabkan oleh air yang tidak aman, kebersihan tak layak, serta kekurangan kesehatan.
Kesehatan, kebersihan, dan air yang lebih baik—yang secara kolektif dikenal sebagai WASH—akan mengarah pada berkurangnya risiko penyebaran penyakit dan pada gilirannya akan menghasilkan peningkatan kehadiran siswa di sekolah dan akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.
WASH juga meningkatkan berlanjutnya pendidikan anak perempuan. Demikian antara lain isi pernyataan itu, yang berjudul Raising Clean Hands: Advancing Learning, Health and Participation through WASH in Schools.
Kaag juga menyatakan, peningkatan kebersihan di sekolah akan membantu tercapainya Sasaran Pembangunan Milenium (MDGs), terutama sasaran berkurangnya kematian anak dan pemangkasan proporsi orang yang tak memiliki akses ke air bersih dan sanitasi dasar. Penyediaan WASH di sekolah, kata laporan itu, akan memerlukan keterlibatan semua lapisan masyarakat, termasuk media, siswa, serta sektor swasta.
Jumat, 26 Maret 2010
" Waspadai Kemunculan Demam Berdarah "

ANDRE: JAKARTA - Masyarakat tetap perlu mewaspadai berjangkitnya demam berdarah dengue di tengah perubahan cuaca belakangan ini. Terutama, di daerah-daerah yang selama ini rawan demam berdarah.
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Syahrul Aminullah mengatakan, Kamis (25/3) di Jakarta, pada musim hujan banyak terjadi genangan air yang menjadi habitat nyamuk untuk bertelur dan bertumbuh. Setelah menjadi dewasa, nyamuk menggigit manusia dan menyebarkan penyakit. Nyamuk Aedes aegypti senang bertelur di genangan air bersih.
Peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) perlu menjadi perhatian dan diantisipasi oleh otoritas kesehatan, terutama di daerah, sehingga tidak terjadi ledakan kasus. Terlebih lagi, demam berdarah dapat berujung pada kematian.
Pencegahan penularan demam berdarah terutama melalui pemberantasan sarang nyamuk secara konsisten dengan membersihkan, menutup, dan mengubur barang yang dapat menjadi sarang nyamuk, serta menaburkan abate pada tempat penampungan air (gerakan 3M).
Dari data Kementerian Kesehatan, sepanjang tahun 2009, penderita DBD tercatat 154.855 orang. Dari kasus yang dilaporkan sepanjang tahun 2009, terdapat 10 provinsi dengan kasus terbanyak, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Bali, Banten, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.
Sehari sebelumnya, seusai acara peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, sejauh ini demam berdarah masih terkendali. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, awal tahun merupakan masa berjangkitnya demam berdarah sampai dengan bulan Maret atau April. ”Kami masih mengamati terus,” ujarnya. Kementerian Kesehatan telah mengirim surat edaran kepada pemerintah daerah berisi imbauan untuk menjalankan upaya pencegahan penularan DBD.
Rabu, 24 Maret 2010
" Waspada, Anak Bisa Ketagihan Tayangan Pornografi! "

ANDRE: JAKARTA - Globaliasi informasi ibarat dua sisi mata uang. Ada dampak positif dan ada pula dampak negatifnya. Peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Masayu S Hanim, mengingatkan para orangtua untuk memantau tayangan dan informasi yang diakses putra-putrinya, sejak anak-anak hingga menginjak usia remaja.
Berdasarkan penelitian LIPI pada tahun 2005-2007 di beberapa kota di Indonesua, menyaksikan atau mengakses konten porno bisa menimbulkan addiction alias ketagihan. Ia memaparkan, dari hasil penelitian di Palembang dan Semarang, sebanyak 51 persen dan 42 persen responden mengaku ketagihan setelah menyaksikan tayangan pornografi.
"Kalau untuk anak-anak dan remaja, ini kan bahaya sekali. Apalagi sekarang akses internet yang luas membuka peluang menikmati tayangan ini menjadi semakin besar. Perlu pantauan orangtua terhadap anak-anaknya," kata Masayu dalam sarasehan "Pornografi Anak" di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Rabu (24/3/2010).
Aktivitas yang dilakukan untuk mengakses konten pornografi di antaranya dilakukan melalui film atau DVD/VCD porno, membaca majalah/buku porno yang kemudian mendorong untuk melakukan hubungan seks diluar pernikahan. Selain ketagihan, dampak tayangan pornografi akan menimbulkan escalation atau hasrat untuk melakukan tindakan seksual dan membangkitkan kecenderungan untuk melakukan dan meniru.
"Kita juga harus kritis terhadap tayangan di televisi. Iklan juga secara tidak sadar ada yang memuat konten pornografi dan terkadang luput dari perhatian kita, tetapi bisa dicontoh oleh anak-anak," kata dia.
Sementara itu, Kepala Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika, Gatot S Dewo Broto mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meminimalisasi akses ke situs-situs porno. Orangtua juga bisa melakukan filter sendiri dengan memblok situs-situs yang dinilai membahayakan bagi anak-anaknya.
"Bisa diakses di internetsehat.org. Orangtua atau kita bisa memilih, situs-situs apa saja yang akan diblok sehingga tidak bisa diakses anak-anak," ujar Gatot.
.
KARYA ANAK BANGSA RW.07
" Karya Anak Bangsa: POHON CEMARA "
